December 2, 2009

I quit.

me : Halo saya Jenifer (sambil mengangkat alis tinggi-tinggi).
bpk: Oh yaa,,,sekarang nama-nya Jenifer? Bapak sih lebih suka namamu yang sebenarnya, simpel.

Saya masih ingat betul kejadian ini. Di sebuah kota kecil di pulau Sumatera. Saat itu usia saya baru 10 tahun, selalu berkepang dua, tidak punya teman bermain dan bercita-cita menjadi gadis populer seperti Laura, si cantik keturunan India-Arab-Cina-Indonesia. Laura disukai oleh semua anak laki-laki di sekolah termasuk Peter, seorang anak kecil ganteng keturunan Amerika. Ya, saya iri…sangat iri. Saat itu saya punya satu tujuan yitu merubah diri saya seperti Laura. Langkah pertama, dimulai dari merubah nama saya yang sangat Indonesia menjadi Jenifer.

Saat ini saya tahu itu bodoh.

Itu yang membuat saya berhenti. Saya tidak ingin hidup seperti orang lain. Saya tidak peduli apakah mereka sukses, bahagia, tidak bahagia, mencapai sesuatu atau pendapat mereka terhadap sesuatu. Saya tidak peduli. Saya bahkan tidak mengenal mereka. Dan tidak tertarik untuk mengetahui detil kehidupan mereka atau sifat mereka. Karena saya tahu, saya akan kembali terseret rasa iri itu. Saya tidak ingin menilai, oleh karena itu lebih baik saya hanya tersenyum dari jauh kepada mereka tentu-nya di kehidupan nyata.

Dan pagi ini, rasanya lebih indah. Karena saya tidak tahu apa-apa. Seperti sebelum saya menjadi Jenifer.


November 17, 2009

Tahukah kamu,

Saya begitu bahagia. Semua karena kamu. Saya nantikan tanggal 19 desember. Saya nantikan tanggal-tanggal lainnya. I love u


August 18, 2009

Kembali disini, saya sepi sendiri.
Tiga hari ini bagai mimpi.
Melihat kamu tertidur, menyentuh kamu yang terlelap.
Saya ingin jadi guardian angel-mu.


July 19, 2009

keluarga. humm mungkin lebih tepat jika memakai tanda baca berbeda.

keluarga?

Saya tidak yakin apa artinya keluarga. hubungan darah-kah? hubungan batin-kah? atau justru konsep emosional yang dibagun karena kesamaan gen? Entah-lah.

Katanya, keluarga tidak meninggalkan. Tapi hanya sebagian dari mereka yang benar-benar terhubung secara emosional. Katanya, keluarga menerima apa adanya, tapi ada yang bersungut-sungut di belakang. Katanya, keluarga meringankan derita, tapi kenapa rasanya sangat complicated.

Kalo dalam keluarga, ketidak setujuan anggota keluarga diperhitungkan.
Kalo dalam keluarga, normalitas itu yang benar.

Saya tidak mau keluarga yang seperti itu.

“Tuhan, cukup lingkari saya dengan orang-orang yang mencintai saya


selamat jalan…

May 25, 2009

20 Mei 2009,

Rabu pagi mendung menyertai perjalanan kami hari itu. Menanti kepastian kabar dari sebuah puing pesawat hercules C-130. Pesawat perkasa yang gambarnya mewarnai rumah kami. Pesawat coklat yang sering dinaiki keponakan saya, arya bersama ayahnya. Pesawat itu pula yang mengantarkan kakak, ayah, suami, anak, dan adik tercinta kami ke peristirahatan terakhirnya.

Tidak pernah terbayang di benak saya, untuk menjadi sebuah bagian dari berita nasional, sebuah kecelakaan pesawat tragis yang merenggut ratusan korban. Begitu hiruk pikuk juga begitu sepi rasanya. Semua orang kehilangan arah, semua orang tidak tahu harus bersikap seperti apa. Berharap atau pasrah.

Tepat pkl. 11.00 kepastian itu datang. A great man has left us.

Saya pandangi kakak perempuan saya, pandangannya kosong, pedih, sakit, tapi begitu tegar. Saya tahu dia ingin menangis, berteriak, menyesal, marah, tapi dia hanya diam memegangi kedua anaknya. Dia tahu kepedihannya akan semakin membuat kedua anaknya bingung.
Saya perhatikan keponakan saya, mata-mata kecil mereka bingung. Siapa orang-orang di rumah mereka, kenapa orang-orang ini berdatangan dan menangis. Mereka belum mengerti tapi mereka bisa merasa duka itu.

Melewati setiap menitnya, kami tetap tidak tahu harus bersikap apa, sakit, duka, pedih, kesal, sepi datang jadi satu. . Sakit ditinggal seseorang yang begitu baik, pedih membayangkan apa yang ada dibenaknya terakhir kali, kesal karena tidak ada kejelasan, sepi memandangi setiap sudut rumah yang penuh dengan foto dan tawa-nya. Ini rasanya kehilangan orang tersayang.

Saya tahu, semua keluarga korban pasti merasakan duka yang mendalam, tapi untuk keluarga kami rasa itu sedikit berbeda. Alm. Mayor (Pnb) Danu Setiawan, kakak ipar saya adalah kapten pilot pesawat itu. Setiap kami melihat berita di televisi, setiap kali keluar pernyataan tertentu tentang penyebab kecelakaan, rasa sakit itu makin mendalam.

Ingin marah, tapi kami harus rela.

Merelakan kepergianmu yang tiba-tiba. Mengenang tawa dan senyum-mu setiap hari. Mengingat kebiasaan-kebiasaan kecil itu. Dan tentu saja merawat anak-anakmu.

Selamat jalan, mas danu.

Tidurlah dengan tenang.

Pria terbaik yang pernah menyentuh hidup kami.

Seperti kata arya, “Papa pergi ke surga, nanti kita naik pesawat kesana”. Ya…kita semua akan pergi kesana suatu saat nanti.

We love you!


I am Veronica

May 12, 2009

Sudah 2 hari saya terbangun dengan perasaan tidak keruan. Hari pertama saya terkaget-kaget, mereka-reka ini hari apa, dan apa yang harus dikerjakan hari itu. Akhirnya saya menjalaninya sekena-nya. Bangun, bersih-bersih ruma, membuka laptop, membaca beberapa journal, membuat summary, menulis the next article dan akhirnya ke kampus.

Hari kedua lebih suram dari yang saya kira. Saya terbangun dan berpikir ingin loncat dari balkon kamar saya di lantai 19. Ya.. saat itu saya hanya mampu membayangkan rasa yang akan diperoleh saat saya loncat. Plong! That’s it, just like the movie scene. Bayangan terbang ringan setelah mati kemudian pergi ke surga. Dan melihat saya tersenyum menjauh. But I thought it would feel much much more horrible and full of blood. Thanks god! I was born as a libra, who always think about everything from different side.

And there I was, pondering around, thinking that my damn hormones that makes me feel that way.

Saya tidak stress. Pekerjaan saya baik-baik saja. Saya bahkan sedang memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga saya (walaupun mereka tidak berada di dekat saya). Tapi saya sedih,,, sekali…

It took a whole day just to realize what happened! And there I was lying in bed chat with my boyfriend and my bestfriend. I started to cry looking at everything I wrote on my blackbery. I just knew that I am Veronica from Paulo Coelho books.

Veronica wants to die because she lives just the way it is. Nothing makes her feel alive anymore. She lost her passion! MMhhh wait she doesnt have any as far I can remember. And I am.

This the hundred time I lost it. And for the other time, I always could find another temporary happiness to fulfil it. Eating good food, shopping good clothes, going to salon, and spending time with my boyfriend. But not this time, I need to find something more permanent.

And there I was, lying in my bed, burst of tears,…Saying “saya tidak bahagia”. “This is not the kind of life I want”.

Saya tidak bahagia..

Bukan..bukan karena saya jauh dari pacar saya. He apologized a thousand times for this. He thought his choose of carrer that make us have to live far-away from each other is the source of my unhappy feeling (eventhough, I thought it probably add some sour feeling). Don’t worry honey, saya pikir kebahagiaan tidak tergantung pada orang lain. The happiness comes from within.

Saya benamkan mata saya ke bantal, and I was remember the beautiful scenery that struck my eyes the day before. Sebuah pemandangan sore, lapisan awan hitam bercampur jingga, semburat cahaya kuning, yang membuat saya merasa kecil dan takut pada Tuhan. Bergidik saat ituu… Tapi juga membuat saya menjadi manusia bebas. Itu yang saya mau, melihat berbagai pemandangan indah, yang bisa membuat saya merasa kecil tapi bebas. Membuat semua indera saya merasa.

I didn’t need more time, to redefine my passion. Saya ingin melihat tempat-tempat indah, berada dalam keheningan, dan merasakan betapa kecilnya saya di mata Tuhan. I want to feel that way all the time. (not as a partial traveller alias wisatawan mancanegara or wisatawan domestik, I want something more real).

And the questions begin. How could I do it? I’m not a writer, not a traveller, so how could I do it?

And my best friend simply answer, “Just doing it as u”.


May 1, 2009

me, stranded by emptiness.

scared by the future. Read the rest of this entry »


April 9, 2009

Tidak bolehkah saya cemburu?

Pada dia yang sedang menyiapkan pernikahan di akhir tahun ini.

Pada dia yang baru memiliki bayi perempuan mungil yang cantik.

Pada dia yang punya punya pekerjaan bergengsi.

Pada dia yang selalu memakai pakaian dan sepatu indah.

Pada dia yang punya kebebasan penuh untuk berkarya dalam hidupnya.

Pada dia yang memiliki keluarga.

Pada dia yang memiliki keliaran.

Pada dia yang menikmati hidup di sebrang lautan.

Pada dia yang bisa menghabiskan waktu bersama kekasih hatinya kapanpun.

Seharusnya saya cemburu pada dia yang tidak pernah cemburu pada perempuan lain.


saya dan dia

April 8, 2009


“aku baca tulisannya, maaf”.

“itu rahasia, kenapa harus dibaca??” “sebal”

“aku sedih bacanya.”

“ga perlu.”

“i won’t leave you. we’re going to make that small family that you always want,,,the perfect one sayang”.

“….”

and she cried, like a little baby in his arm.

thank you.


yang hilang

February 5, 2009

Sudah 20 tahun rupanya, saya tinggalkan keteduhan saya. Saat-saat dimana saya tidak punya rasa takut terhadap apapun. Dimana saya selalu merasa langkah saya tidak pernah gontai, selalu merasa dinaungi sebuah pohon besar yang membuat saya nyaman dengan semilir anginnya.

Tinggal di kota kecil di daerah Sumatera, selalu membuat saya ingat bahagia-nya berlarian di sekitar rumah. Bermain dengan apapun yang disediakan oleh alam. Saya tidak pernah takut jatuh atau luka, walaupun saya tidak pernah suka berkemah sampai saat ini.

Keteduhan itu masih terasa, rasa senang, bahagia, hangat, dan bebas ketika melakukan apapun. Kelelawar jadi tidak menakutkan, semut api bukan lawan, ular bahkan jadi obat. Itulah keteduhan yang terasa saat itu. Setelah 20 tahun pencarian keteduhan itu semakin menjadi. Belum sempurna tapi hati saya sudah bisa merasa ini semilir angin yang saya cari…

Keteduhan ini,

memberikan rasa nyaman. Membuat saya tertidur kapanpun saya mau tidur. Membuat saya bangun dikala saya sudah penat tertidur. Membuat saya bangun dengan riang kemudian mengambil sapu dan pel, sambil mendengarkan Jason Mraz. Membuat saya suka mandi, makan, masak, dan berolahraga. Keteduhan ini dinamakan rumah kecil saya.

Keteduhan ini,

selalu membuat saya tertawa. Membuat saya kegirangan atau bahkan menangis sesungukan. Bahkan terkadang membuat saya tidak tidur karena khawatir. Dan sering membuat saya tersenyum sebelum tidur. Membuat saya beranggapan bahwa hidup saya memang semudah itu. Keteduhan ini saya panggil cinta kecil saya.

Semoga benar keteduhan ini memang pohon besar yang kuat. Yang selalu akan bisa membuat saya bersandar dibawahnya.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.